Thursday, July 31, 2008

Hayatan Thayyibah…

Cerita sebelumnya...

Hayatan thayyibah (tulisannya benar nggk ya….) klu nggk salah artinya ialah kehidupan yang baik atau hidup baik atau juga hidup yang baik, pokoknya nggk jauh-jauh dari situ Tentunya semua orang ingin yang baik-baik. Teman yang baik, orang tua yang baik, saudara yang baik, anak yang baik serta kekasih yang baik dan banyak lagi. Kita sebagai orang muslim pastinya klu sehabis solat selalu saja mengucapkan doa sapu jagat (Rabbana atina fiddun ya hasanah …dst) yang intinya agar selalu diberi kebaikan di-dunia dan di-akhirat…Sekarang masalahnya adalah dengan cara apa kita bisa mencapai Hayyatun Thoyyibah itu…Wah, tentunya ini akan menjadi diskusi yang cukup menawan. Parameter tentang apa itu baik pasti akan berbeda tergantung dari tingkat keimanannya…ei kenapa bermula dari tingkat keimanan…kenapa nggk dari tingkat pengetahuan….well, singkat saja kawan…Seseorang yang mengenal dirinya pasti akan mengenal siapa yang menciptakan dirinya…

Terserah pribadi masing-masing aja deh tentang bagaimana meraih Hayatan Thayyibah, namun berdasarkan yang saya baca dirujuk dari sebuah lembaran mesjid bahwa paling tidak ada tujuh Kriteria kehidupan seseorang yang mendapat Hayatan Thayyibah Yaitu:

1. Rizki yang Halal

2. Qonaah
3. Kebahagiaan

4. Kete
nangan
5. Ridha

6. Syukur

7. Sabar


Konon katanya jika kita or seseorang dimana ketujuh kriteria ini telah merekat erat di dalam diri dan jiwanya...ya kesimpulannya dia adalah termasuk golongan Hayatan Thayyibah. Hmmm....masih dengan selimut misteri kawan, tepat tanggal 07 Juni 2008 aku melamarnya.

Waktu seorang rekan menanyakan kepadaku tentang apa itu makna menikah...??? Whew...bukan perkara mudah untuk menjawabnya...Aku hanya menjawab dalam hati bahwa dengan menikah setidak akan putus rantai setan sehingga akan menjadi halal. Dan jawaban yang paling dominan ialah aktualisasi diri or meledakkan potensi diri or menjadi Pribadi yang termasuk Golongan Hayatan Thayyibah. Ya...aku singkat saja kawan apa itu menikah: Meledakkan potensi Diri dan termasuk golongan Hayatan Thayyibah. Weih..berat...berat....

Dalam realitas sering kita lihat, kita dengar dan kita amati lika-liku berumah tangga...Tahun-tahun pertama merupakan tahun yang cukup susah mungkin. Pengeluaran besar Cing...belum lagi jika setelah nikah...klu nggk ada dopang...ya, cilaka 13x10+90-2...engkau tahu kawan...bahwa uang Suami adalah uang Istri dan uang istri ya uang Istri....wah, aku nggk bisa cerita banyak deh karena belum mengalaminya....mungkin nanti ya kawan....Sebentar lagi juga udah nikah....hihihi...Masalah ekonomi bagi adalah hal yang penting....iya nggk seih...pernah baca artikel: Ada uang abang di Sayang, nggk ada Uang Abang di tendang....wiuiuiuiuiuiuiu...Yup, aku rasa ini adalah sudah merupakan sejarah takdir-ku klu tanggal 2 Agustus 2008 aku akan menikah....

Dengan dukungan para saudara...acara lamaran pun digelar kawan...sangat-sangat sederhana sekali...Alhamdulillah kawan...atas segala doa dan bantuannya...acara berjalan dengan lancar...terbesit didalam hati kala itu...bahwa aku ingin menjadi pribadi lebih baik lagi...Pembelajaran yang sulit kawan...

Ya ya ya...pembuktiannya adalah beberapa tahun setelah aku berumah tangga dengannya. Apa yang akan terjadi kawan...??? kita tidak akan pernah tahu akan hal itu...Hanya saja jika engkau menanyakan aku tentang apa itu nikah....ehmmm, dengan kikuknya aku akan menjawab...ya nikah itu untuk meledakkan potensi diri dan kita berharap masuk kedalam golongan Hayatan Thayyibah...

Dan apakah kesimpulannya adalah Menikah = meledakkan Potensi Diri + Hayatan Thayyibah....??? waduh...aku belum bisa untuk yakin menjawab kawan....namun aku berharap seperti itu....Satu lagi kawan..Bahwa kehidupan yang baik tidak hanya membawa kebaikan bagi dirinya tetapi juga kebaikan orang lain serta alam semesta...

Salam Pipin Andriyanto
* Tulisan ke-3 dari 4


Tuesday, July 22, 2008

Pantang Dihela SuRut...

Cerita sebelumnya...
Pakde : Umur kamu sekarang berapa pin…?
Pipin : 24 mau ke 25 Pakde…
Pakde : Berarti sebentar lagi dong target kamu nikah....
Pipin : hehehe....(hati-ku tertawa sesak), mmm, (sesekali melamun singkat)...i..i..iya Pakde mohon doanya....
Pakde : Iya pin...Pakde dukung...Jadi laki-laki itu harus berani....Pakde dukung Pin...!!! (pastinya dengan suasana juang 45...)

Dan sinyal perjuangan 45 itu sebenarnya tidak sealur dengan keadaan hati-ku kala itu....Gagap, tidak mempunyai arah, monokrom, beku, confuse, bimbang, gelisah bercampur dengan kol, kacang panjang, toge, daun singkong, wortel dan sawi...Itulah akibat dari ucapan target yang sembrono. Kenapa sieh ingin nikah pada umur 25...? Sakralkah angka 25 itu di hidup-mu...? atau hanya karena engkau dihasut dan dianggap menjadi seorang penakut karena tidak berani menikah di umur 25...? atau juga banyak teman-temanmu yang menikah di umur 25...? atau juga karena sang Baginda Mulia Muhammad saw menikah di umur 25 maka engkau juga harus menikah pada umur 25....? Dan aku pun terdiam...? terdiam disudut ruangan itu...

Well...aku hanya bisa menjawab...aku ingin menikah di tahun ini yang memang bertepatan dengan umur-ku yang 25, thats All...Allah maha Kaya...dan tentunya akan membantu hambanya yang ingin menikah. Teman...aku nggk tahu apakah targetku tercapai apa tidak...Tapi berdasarkan Intelegensia Tanpa Batas mengajarkan kita untuk selalu yakin, yakin dan yakin... Bukankah kekuatan keyakinan bisa menciptakan kenyataan...??? Bukankah Allah mendengar doa-doa kecil kita....??? Tidak ada kekuatan melainkan kekuatan dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Tak lama lagi ’Mestakung’ alias semesta mendukung itu akan tercipta...

Teman....Sebentar lagi sang mahadewi itu akan wisuda di kampus yang konon berjulukan kampus rakyat...Dan aku pun harus menyiapkan amunisi yang mumpuni...Yah..akan kukatakan kepada Ayahnya....dengan lantang aku akan mengucapkan...’Pak...saya akan melamar putri Bapak...Aku mencintainya Pak...’
Aku akan melamarnya teman dihari wisudanya...

***********
Dan hari wisuda pun telah hadir. Dengan celana jeans biru muda putih dan kemeja biru, aku berjalan perlahan. Melihat kerumunan yang sesak. Well, untung ada mas roy, anak juragan dari lampung tea...dengan dandanan yang sederhana kita berjalan-jalan membelah kerumunan itu. Asyik juga nggk masuk kantor....Matahari mulai merangkak ke atas ubun-ubunku. Segenggam bunga telah ku-pegang erat di kelima jari ini. Dipersimpangan jalan itu aku berpisah dengan Mas Roy, karena beliau ada urusan. Dan aku melangkah menuju koridor faperta. Nafasku sungguh keras dan sesak, dengan iringan beberapa tembang Collective soul kutuliskan kisah ini. Dengan kikuk kuserahkan bunga itu....setelah berfoto2 ria....aku di bawa kerumah saudaranya terdekat. Dengan kondisi agak lelah...aku tegakkan badan ini di atas sejadah itu, berharap di beri kekuatan untuk berbicara kepada kedua orang tua atas maksud kedatangan-ku ini.

Kawan, engkau tahu kawan bagaimana rasanya ketika ingin mengutarakan maksud....” Pak...saya akan melamar Putri Bapak...”, weih, wezz, sungguh berat kawan...Jantung-ku berdetak lebih kencang, lebih kencang dari pukulan beduk sewaktu lomba di bulan Ramadhan. Kata-kataku tak beraturan, parau. Dan, kawan..tahukah apa yang terjadi, sejenak keajaiban menghampiri-ku...ya ya ya....singkat saja kawan...dengan kondisi suasana yang mendung, tiba-tiba mati lampu, klik...dan kontan saja keadaan sekitar menjadi agak sedikit gelap dan tenang....Pencaran api lilin menerangi sekitar disertai lambaian dedaudan dari luar...Yak...! aku katakan maksud ku itu.....aku masih ingat....Sang Bapak menatap ku..sembari berkata..”Sudah Siap Kamu Pin...?!”

weih, kawan...seperti peribahasa: ”Kalau kaki sudah terlangkahkan, pantang dihela surut : artinya kalau sudah terlanjur, jangan berhenti sampai disitu saja. ”...maju teruslah aing....” Insya Allah saya Siap Pak..!!!”
Ya Allah pipin nekat bener....teriak hati-ku....Sudah sudah....jika niat baik pasti ada jalan, begitu katanya.

Ya ya ya... Kalau kaki sudah terlangkahkan, pantang dihela surut....Bismillah...



Salam
Pipin Andriyanto
Cerita berikut:
Lamarannya

Tuesday, July 15, 2008

Pasrah Feat WarTeg...

Terpaku dengan kekusutan hidup dan hanya bermuara kepada kepasrahan.
”Hey..jika kau tidak bisa menyelesaikan masalah itu tinggalkan saja...jangan kau pusingkan hidup ini...!!!”, lemparan kata nasihat teman dari pulau seberang, Medan.” Bah...tak bisalah kawan, semakin kita lari kencang menjauh semakin kencang pula masalah itu mengejar kita. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kau harus hadapi...”, Bantah hati-ku. ” Lay...tapi kau liat-liat dulu masalahnya itu apa, klu kecil ngapain kau ambil pusing...tomorrow never dia-lah.”...Aku hanya tersenyum palsu, saat ini aku setuju dengan perkataan dia. Entahlah esok akan seperti apa...Selama kita masih punya harga diri sebagai anak zaman dan tidak melanggar syariat...lakukan saja.

Kepasrahan umumnya muncul ketika kita berada pada titik terendah dalam rentang waktu yang sedang kita hadapi. Sebagian orang melihat pasrah dengan hanya tidak melakukan apa-apa sedikit pun...” Gue dah pasrah aja men...nggk taulah nanti...”..Yah memang begitulah. Namun ada sebagian orang yang telah memasuki wilayah pasrah akan tetapi dia belum mengakuinya. ” Hff, Ya Allah...aku harus bertahan...pasti masih ada celah...pasti masih ada puing-puing harapan untuk bertahan hidup...”, yah, masih dengan usaha tenaga yang tersisa, walaupun nanti pasti akan bermuara kepada kepasrahan juga.

Siang itu bersama jilatan bola panas matahari aku memasuki warteg itu dengan amat ragu. Santai dan tenang yang tidak akan bertahan lama...:
” Ibu disini bisa kasbon bu...? saya mulai hari senin ini bu...hari jumat sore saya lunasin...”
”Mmh...emangnya mas kerja dimana (khas irama tegalnya terasa pekat dari ucapannya).
” Saya kerja didepan bu, seberang jalan ini kok... ”
”Ooo, boleh aja asal bayarannya bagus (tepat waktu.red)...”
” Ya udeh bu..makasih banget ya bu...ini KTP saya bu sebagai jaminannya...klo gitu saya pesen soto aja...”

Ucapan syukur berkali-kali ku-ucapkan...karena setidaknya untuk beberapa hari kedepan aku masih bisa makan. Itulah hidup selalu saja ada aksi dan reaksi, perbuatan yang telah terjadi selalu saja ada respon dari alam sekitar. Kita bekerja, kita dapet gaji. Dan gaji itu banyak sekali turunannya....buat tabungan, pendidikan, asuransi, biaya hidup kita, istri dan anak dan sebagian untuk persiapan acara lamaran...Ada yang gajinya melimpah, ada yang gajinya pas mencukupi...adanya yang selalu tidak mencukupi. Pokaknya macem-macem...Pemantik api itu sudah dinyalakan teman...dan dengan kenekatan yang sangat sedikit berbau perhitungan-perhitungan...Maka Tepat tanggal 7 Juni 2008 aku melakukan ritual lamaran. Iya lamaran...layaknya seseorang yang ingin menikah sebelumnya pasti ada ritual lamaran dahulu.

Engkau tahu kawan...biasanya ada 4 hal yang harus dipersiapkan seseorang yang ingin menikah..
1.Kesiapan Ilmu
2.Psikologis yang mantap
3.Sehat jasmani
4.financial yang mencukupi
Dan aku...? keempat hal diatas tersebut belum begitu banyak terpenuhi dalam diri ini...kecuali sehat jasmani...i hope. Tapi ya itu tadi...dengan kenekatan yang berbau sedikit perhitungan...akhirnya aku melamar seorang yang aku cintai...

Dan engkau tahu teman...dari proses lamaran itulah yang membawa-ku di akhir bulan selalu sering bersilatuhrahmi makan di warteg ini. Pagi hari, siang dan sehabis pulang kerja...aku pasti makan di warteg itu. Ya, Allah...Indah sekali..seni yang sangat indah...Lamaran dan kasbon di warteg...Sebagian teman pasti akan menertawakan-ku mungkin bahkan memandang sebelah mata...biarkan saja. Dan hari jumat sore pun telah datang...Begitu nikmat sekali ketika aku melunasinya....Namun, aku berusaha untuk lebih baik lagi....Warteg bu Mu’ah...engkau sangat berjasa dalam membantu menyelamatkan nyawa-ku...aku pasti tidak akan melupakanmu....
Well teman...kita semua makhluk lemah dan penuh dosa...
Pasrahkan semuanya kepada Allah dengan iringan usaha.

To be continued Next storie
( Pra Lamaran ...:-))


*Untuk ibu mu'ah semoga selalu di beri kesehatan dan kemurahan rejeki sekeluarga

Salam
Pipin Andriyanto



Friday, May 30, 2008

Sharing Gede Mountain yey...!

Aslm….
Rasanya sudah 2 bulan lebih aku tidak menggoreskan tarian jemariku di rumah ini…Mmmh, mungkin banyak pertanyaan…”Pin loe masih hidup pin…???”, “Weih…kemana aja loe bro…? Sibuk kayaknya….??”…” Mau nikahan pin katanya…???”…etc, de el el, lanina, elnino…”Pipiiiiin…aku kangen….Makan bareng lagi yuk….!!!”, Nah lho…!!!, Rasanya ada yang memang hilang dari setiap lembar waktu-ku. Yang jelas keadaan semakin sulit saja rupanya…Or keimananku yang semakin rapuh ya...??? layaknya perjalanan sejarah pohon Djati...ada masa terlihat rimbun namun ada masanya panas yang meranggas...menggugurkan para dedaunan. Sesaat kita melewati jalan rusak penuh debu yang sebentar lagi akan berhadapan dengan jalan rusak yang becek penuh lumpur cair....Namun tak selamanya jalan yang kita lalui rusak, becek, dan penuh debu...Wuzzz...dengan entengnya kita menancap gas sekitar 80km/jam. Yup! Sekarang jalan yang kita lalui sangat-sangat mulus...

Kepada teman dan rekan2 yang saya hormati...Sekarang setelah saya menimba ilmu dari tempat sebelumnya Indomedia Group (Tabloid PULSA)....saat ini saya sedang belajar ’kuliah’ di Infomedia Nusantara (Yellow Pages)....Pastinya banyak pengalaman, teman, para wajah baru...Pengennya ya ini tempat terakhir berlabuh...Namun,nggk ada yang kekal di dunia ini dan manusia terkadang cepat bosan dengan kondisi yang berbeda dengan harapan. Jadi teringat pesan Pakde...” Hidup ini sudah ada yang ngatur kok...Jadi jalanin aja...klu sekarang kamu dipecat or perusahaan bangkrut trus kamu kena PHK ya itu memang sudah perjalanan hidup kamu pin...Jalanin aja...Yang penting jangan pernah Menyerah...bangkit dan terus Bangkit....!”, hfff...aku hanya tersenyum kecil, akhirnya kalimat magis itu terucap juga setelah sekian lama tidak pernah aku dengar...

Aku akui sel sambungan di otak-ku masih sedikit dan sangat minim...itu artinya ya...i may not be a smart Men....ya ya ya...gue emang bukan orang pintar nan cerdas...Fuih...Sudah 4 kali adzan terdengar, satu persatu bergegas pulang....sebagian berkumpul dengan para keluarga tercinta, sebagian hang out ber-Bachelor Party, sebagian masih berngutak ngatik gatuk didepan komputer, dan gue....??? mmmh, nothing-lah...dengan perut yang mules (suer) berusaha menuangkan curahan di rumah ini...memikirkan pe-er2 ’kuliah’ di Infomedia, deuuu, huehehehe...Perlehatan Akbar hidup-ku...weih...ternyata mengakhiri masa lajang tidaklah semudah membuat grafik Revenue hasil kanvas....Beu...waow...begitu eksotis....mungkin di lain bab-lah aku akan menulisnya.

Masih merupakan misteri dari sebuah ucapan pak valentino Dinsi pada seminar yang ku ikuti bahwa dia mengatakan...”Orang besar itu tahu apa yang dia inginkan dan tahu pula bagaimana caranya untuk mewujudkan apa yang dia inginkan...” yah..2 hal yang masih menjadi selimut bercampur kabut misteri...1. tahu apa yang inginkan,2. tahu bagaimana mewujudkannya....dan aku belum punya kedua hal itu...mayday...mayday, S.O.S...Warning...lampu Kuning....wah...kacau ya gue.....??? Tapi aku yakin kok....kita semua adalah Pahlawan....hehehe...itu yang diucapkan pak Agi...Koor Tim Riset Pilar infomedia...Well...cepat atau lambat pasti kita semua akan menemukan 2 hal untuk menjadi orang besar...

Dan memang rasanya hidup ini seperti mendaki menuju puncak Gunung Gede melaui jalur Selabintana, Sukabumi. Melelahkan, penat yang teramat, dan beberapa serangan pacet yang mengucurkan darah segar tanpa berhenti. Namun engkau tahu teman apa yang kita rasakan ketika telah sampai ke pUncak Gede itu....??? Subhanallah....Kita semua pasti bisa...!!! So, the last neh...aku lampirkan beberapa foto-fotoku saat nanjak ke Gede (17-18 Mei 08)....Biarin deh dibilang sangat-sangat narsis Mode ON...Maap Ya...Hanya mengabadikan foto kenangan buat anak cucu nanti...Perjalanan yang mantab rekan2 semuanya....yah, masih dengan para pasukan ra genah...Klu mau tahu lebih lengkapnya ya silahkan ke rumah berikut:


Untuk kedua Orang tua-ku...Ibu dan Bapak.....aku sangat-sangat ingin mencium telapak kakimu...i lppyu banget.....untuk kedua adikku...jadi orang besar ya nantinya....

nb: untuk rekan2 Statistika'38 moga ukhuwah kita tetap terjaga...Met beraktifitas...

Salam
Pipin Andriyanto

Tuesday, March 18, 2008

Kaca Spion...

Beginilah keadaan jalur dari slipi menuju Uki pada jam-jam sewa…Macet!. Apalagi ditambah dengan kondisi alam yang sedang mencurahkan isi hatinya, hujan yang sambung menyambung. Sang juru kunci yang mengendali bis ini selalu sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri sesekali berteriak…:’Kaca spion tolong di-lap tuh…(sembari menunjukkan ke arah kiri)’…mengambil celah jalan, putar setir ke kanan dan ke kiri, rem mendadak, jeritan klakson terdengar sumbang dari kendaraan di belakang bis ini karena Sang juru kunci selalu saja merubah arah jalur…klu saja bis ini tidak memiliki kaca spion mungkin tidak akan bisa tak-tik-tik-tak ugeg-ugeg di jalanan yang macet ini. Yah diperlukan kaca spion untuk mengetahui informasi keadaan belakang mobil yang sedang kita tumpangi untuk kemudian maju melesat kedepan mendahului kendaraan lain yang ada di sekitar. Menoleh ke kaca spion lalu memandang ke depan dan kemudian tancap gas…

Teman…dengan beberapa pertimbangan akhirnya aku kembali lagi berhadapan dengan manusia pembelajar itu…dan aku katakan: ‘Romo, aku ingin ke Kraton Maespati bertemu dengan Semar Badranaya untuk menimba ilmu, aku dapat kabar bahwa beliau sedang berada di kraton Maespati melayani Raden Arjunasasra ‘. Kepulan asap rokok bertebaran dengan tarian yang rumit menyesakkan pernapasanku…manusia pembelajar itu berkata sembari menghembuskan asap kental: ‘Apa yang engkau cari dari Semar badranaya…? Apakah ilmu yang engkau peroleh sekarang ini kurang mumpuni untuk menjadi pegangan kehidupanmu kelak…?’…aku menjawab:’ Tidak romo…hanya saja tidak ada yang sempurna di dunia ini selain Sang Pencipta, tiada kehidupan tanpa keragaman. Dan keragaman itu bisa membawa manusia semakin mengenal Sang Pencipta…’

Manusia pembelajar:‘ Mmmh…ya aku mengerti apa yang engkau inginkan…(nafasnya terdengar agak berat) kenapa engkau memilih berguru kepada Semar…?’, Dan aku tertunduk sejenak berusaha menguraikan kepeninganku…: ‘ Aku ingin menjadi pemimpin dikehidupan esok romo…konon Semar itu mengajarkan Skill, Ethic, Moral, Attitude, dan Responsibility. Dilain kesempatan dia mengajarkan Sabar, Eling, Mawas, Asuh, dan Rumangsa…dia juga bisa bermakna Setia Eksekutif Memahami Aspirasi Rakyat…Aku akan pergi besok romo…’ Tak banyak hal yang aku bicarakan kepada manusia pembelajar sore itu selain dari keinginkanku untuk pergi ke Kraton Maespati. Kulihat asbak yang telah dipenuhi puntung rokok, sejenak manusia pembelajar ini mengalihkan pandangannya dari buku elektroniknya…

‘ Pin, letakkan masa lalu kita di kaca spion kehidupan kita…jadikan masa lalu sebagai kaca spion yang sewaktu-waktu kita dapat langsung melihat...Apapun yang terjadi di hari kemarin dan hari ini akan terulang lagi di hari esok. Semoga kaca spion ini dapat menjadi pembelajaran kita dalam mengambil sikap dan keputusan…’ setidaknya itulah pesan yang aku tangkap…Filosofi kaca Spion, ilmu terakhir tapi bukan yang paling akhir yang aku peroleh. Rasa-rasanya kita memang perlu untuk memasang kaca spion di pundak pikiran kita sebagai cerminan masa lalu. Setelah aku pamit, aku kembali ke meja jingga kelam itu. Membereskan perangkat yang berserakan, menyelesaikan administrasi yah ini adalah rentang takdirku terakhir berada disini…tapi entahlah dihari esok…aku tidak akan pernah tahu sebesar biji zarah pun…ritual pamitan pun aku lakukan lagi dilantai 3 ini…

Hujan cukup deras malam itu mengantarkan-ku kekehidupan baru, nuansa baru, tanggung-jawab baru, wajah baru..Aahh…sejenak ketakutan menghampiri…Secara teori untuk menjadi pribadi unggul dengan mengutip tujuh kebiasaan efektif Stephen Covey yang tercermin pada kehidupan Semar dan Pandawa…bahwa kebiasan itu adalah: Menjadi Proaktif, Memulai dengan tujuan akhir, Mendahulukan yang utama, Berpikir menang-menang, Berusaha mengerti dahulu sebelum dimengerti orang lain, Sinergi dan terakhir adalah istilah ‘mengasah gergaji’. Pudaran cahaya malam berjatuhan dengan bebasnya bersamaan dengan taburan titik-titik air langit. Apakah aku bisa mengaplikasikan teori tujuh kebiasan yang tadi disebutkan…??? Dalam ¼ abad aku mengatakan bisa…yah mudah-mudahan aku bisa!!!.

Rem yang kurang mulus itu mendorong badanku agak kedepan. Beginilah jakarta jika terserang hujan, Macet...!!! Kulihat sang juru kunci selalu memutar-mutarkan poros lehernya...Yah ,melihat kaca spion, pandangan kedepan, tancap gas...namun Ciiiit...!!! efek rem yang menyebalkan...! dan begitu seterusnya hingga di penghujung suasana macet...Dan Semar Badranaya....Aku datang...!!!

Salam
Pipin Andriyanto

Catatan terakhir-ku di Indomedia group (Tabloid PULSA)
Terimakasih ku-ucapkan kepada manusia Pembelajar: Pak Farouk elmi serta rekan-rekan tercinta: Mba Ulies, Mba erni, mba Ocha, mba lisa, neng riris, mas Dedi, Mas Didit, Oji, Mba Iena, mba Fitria, Shaid Leo, Mba leny, mba atie, Bang iwan, Bang robby, Mas Arieffirhanusa, Pak Andi, kang usman, Pak Agus Mulyadi, Pak Rama, bu wawa, nardi, ipunk, mamo, ajis, bule...de el el...Semoga makin sukses aja...Mohon maaf klu saya banyak salah...

Special pake telor buat mas Guanteng M Ihya Ulumuddin....Moga cepet dapet Jodoh...itu saja deh...mengingat usia yang menjelang kepala 3...huehehehehehe...Terimakasih banyak udeh menjadi guru spiritual dan guru belajar-ku...Halah!:-p



Tuesday, March 4, 2008

1/4 abad

Harus dimulai dari mana….? 0 km? 0 sekon? 0 km/jam? Selembar kertas putih? 1,30 meter kain hitam? 0 Rupiah? 0 Kg? 0 Kb? 0 Ppm? Sabun rinso? Kiwi splash cologne? Aroma belaggio? Ponds body white? Pekerja tidak tetap? Angka nol? Atau di mulai dari dalam hati nurani yang kemudian bercerita kata-kata laksana gemericik air sejuk nan damai? Kata terakhir yang aku raih adalah bahwa hidup itu merupakan lompatan-lompatan kecil yang menuju kepada suatu titik. Sebuah titik yang keberadaannya merupakan kumpulan lompatan-lompatan titik di masa lalu. Akan terasa sedikit berbeda jika kalimat itu terucap dari seorang manusia pembelajar.
Keberadaan kita sekarang adalah apa yang kita pikirkan di masa lalu..tentunya bukan suatu filosofi yang aneh teman. Akan tetapi menjadi sangat aneh jika sejenak kita berhenti dan merenung.. “kok bisa ya...?”. “mmh, padahal dulu gue Cuma ngayal doang...”, “yes akhirnya kesampaian juga keliling Indonesia...”, “Kok bisa ya...?” ternyata kata-kata itu benar...dan senyuman-senyuman renyah itu pun bergelantungan bebas di hati kita. Pasti ada semacam doa kecil yang menyebabkan kita seperti yang sekarang ini...dan itu memang benar apa adanya teman...

Namun ada sebagian kelompok orang yang tidak pernah berpikir tentang akan jadi apa nantinya. Orang-orang yang menganut paham “miracles happen everyday” bahwa disetiap detik yang berjatuhan dimuka bumi ini selalu akan membawa balon-balon ajaib yang siap pecah secara tiba-tiba yang kemudian mengubah nasib seseorang. Sebagian kelompok ini juga berpikiran bahwa: “Life was like a box of chocolate, you’ll never know what you’re gonna get”. Ternyata tidak semua coklat rasanya enak. Penampilannya seih terlalu biasa dan biasa banget, wey tapi hasil jerih payahnya yang luar biasa, mengalahkan orang-orang sekitar yang dianggap mampu dari segi kecerdasan, financial, penampilan, dll. Menjadi pemain pimpong kelas dunia, pejuang yang gagah berani dimedan perang, Milyader udang…Just Run…!!! Sebagian kelompok yang menganggap dirinya bukanlah orang cerdas dan kemudian bertutur: ”I may not be a smart man, but I know what love is”…romantis sekali teman.

Mengikuti naluri keadaan sekitar dan Just Run! Tidak membutuhkan kecerdasan tingkat tinggi, hanya bahwa kita tidaklah berbeda dengan mereka yang sudah hebat. Ternyata suply energi pikiran yang positif ke jaringan saraf otak yang telah melalang-buana ke sekujur tubuh ternyata mampu mengubah kerupuk kulit menjadi beragam jenis daging steak. Sirloin, filet mignon, Top loin, T-Bone, Portherhouse, Rib steak, Steak Kakap Renyah, Steak Ayam Saus Putih, Steak Iga Bumbu Cina, Steak "Ayam" Saus Cabai, many others deh...hey, mau makan steak apa kita nanti....? Bagi yang sudah menonton berkali-kali sebuah film yang telah memenangkan piala Oscar tahun 1994 (film yang bersumber dari novel karya Winston Groom: ”Forrest Gump”) pasti tidak asing lagi dengan beberapa kalimat diatas yang aku tuliskan.
Aku percaya bahwa keberadaanku sekarang ini merupakan kumpulan lembaran kecil diriku dimasa lalu dan aku pun percaya bahwa terkadang kita mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Disebut keberuntungan or keajaibankah...? menjalani hidup bukanlah sebuah perkara yang gampang. Waktu yang berkembangbiak dengan pesatnya, sejarah manusia yang terus beranak-pinak, tantangan karir yang menciutkan nyali hingga ke urusan KUA, pelaminan, dan mengarungi samudera rumah tangga. Complicated!!!, tapi jangan terlalu diambil rumit...Asalkan adik ada di sisi Mas...Mas pasti bisa...weddehhh...!!!

Well, teman...gerbang itu terbuka lagi dan hari ini aku tepat sekali barada di bawah gerbang itu. Mengurusi administrasi rencana tahun depan walaupun masih hanya berbentuk pointers-pointers, catatan-catatan kecil...Tertuliskan bahwa hari ini Usia-ku genap 25 tahun...seperempat abad sudah aku berada di dunia ini. Mmh, belum banyak yang bisa aku lakukan, belum banyak karya yang terlahirkan, dan aku masih belum bisa apa-apa....hanya sesekali tersenyum dan tertawa lepas bersama orang-orang hebat. Dan terimakasih ku-ucapkan untuk kedua orang tua, para saudara kandung, pakde bude, saudara sepupu, saudara seiman...moga selalu diberi kemudahan....Sebentar lagi gerbang itu akan tertutup dan aku akan berapa di rentang waktu seperempat abad...

So, harus dimulai dari mana...??? ehmm, dimulai dari keyakinan didalam hati nurani yang berteriak dengan lantang namun singkat: ”Gue pasti Bisa!!!”

Salam
Pipin Andriyanto
04 Maret 1983

Thursday, February 14, 2008

Pulang...

Biarlah pikiran ini tetap terus mengembara ke tempat yang ia suka...walaupun aku tahu bahwa aku saat ini sangat terasa kelelahan...desakan angin dingin memaksa untuk masuk kedalam ruang berpikirku…seharusnya jaket hitam itu menyelimuti tubuhku…namun, tunggulah sebentar…biarkan saja pikiranku untuk terus mengembara…aku tahu ia pergi tanpa alas kaki…semoga saja tidak lama…
Tapi, sepertinya sangat jauh sekali pikiranku mengembara hingga-hingga jemariku sulit sekali untuk menulis sesuatu...karena hanya menunggu perintah dari ucapan pikiran…mmmh, saat waktu bukan lagi hitungan hari, minggu, bulan bahkan tahun…bukan lagi hitungan detik atau menit…aku sering merasakan kalimatku yang menggantung dikekosongan…entah berapa lama aku disapa keheningan…'waktu adalah kehidupan…' ya ya aku tahu, dia adalah bagian dari-ku yang tak akan pernah lepas…clear ! tidak ada sesuatu yang aneh…hanya saja, waktu berjalan teramat cepat…Aku berharap besok matahari tidak menjadi lumpuh...karena aku tidak ingin lagi suasana menjadi gelap.

Teman...bagaimana hidupmu saat ini...? bosan dengan pekerjaan...?, Semakin tidak dewasa...? ingin sekali melakukan hal yang terlalu imajiner...? Merasa tekanan saat di kantor...? Keuangan kembang kempis...?, ck ck ck...engkau tak sadar sudah berada dikantor selama setahun lebih, keinginan yang tak kunjung rampung, dan engkau hanya melihat langit beserta bintang gemintang...huyeuh, hanya itu! Engkau lihat teman, diriku saat ini layaknya grafik penjualan monitoring tabloid PULSA...berfluktuatif, tajam menukik menyerupai rajawali menjemput mangsa, acak tidak membentuk sebuah trend, koefisien keragaman yang cukup besar... Yang harus kita lakukan adalah memecahkan kebuntuan itu teman. Biarlah keadaanku seperti grafik itu saat ini, karena menurutku koefisian keragaman yang cukup besar itu menandakan masih adanya kehidupan yang bertaburkan harapan dan cita-cita. Konon para sarjana muda statistika sangat sekali menghindarkan perolehan koefisien keragaman yang besar karena hal itu menandakan bahwa model yang disusun tidak sesuai dengan realitas lapangan. Walhasil ya model harus kembali dirombak...Terkadang hal itu sejalan dalam kamus kehidupanku. Semestinya kita memiliki antisipasi jika berhadapan dengan sesuatu yang tidak kita harapkan, harapan tidak sesuai dengan realita...ya’, model harus kembali di rombak...

Teman...bahwa tahukah engkau aku sangat-sangat ingin sekali around-around berputar mengelilingi wilayah sumatera. Setidaknya tempat dimana saat aku pertama kali muncul di muka bumi ini. Belakang padang...sebuah pulau yang terletak wilayah Batam, Riau. Jelas sudah, setidaknya label anak pulau agak melekat di sekujur badan-ku. Konon ari-ariku ketika lahir tertanam dengan sakral di Pulau Belakang Padang itu. Mungkin itu yang memanggil diri ini berkunjung kesana...Namun rasa-rasanya untuk saat ini tidak memungkinkan membawa badan ini menuju ke sana. Aku masih ingat rasa bau pelabuhan Batam, perjalanan melintasi samudera di taburi dengan kemilau cahaya lautan. Pulau-pulau kecil yang berkembang biak, terjangan angin yang membuat katup mata merapat sembari putaran poros leher 180 derajat beberapa kali untuk melihat keadaan sekitar...Yah...aku rindu akan hal itu...

Oh ternyata pikiranku sedang bertamasya ke tempat dimana ari-ari ku di-benamkan. Sejanak terbayang wajah sakti mbah kakung...Bubur putih dan bubur coklat yang entah buat apa selalu saja tersedia dikamarnya setiap seminggu sekali... Sedangkan mbah putri....” Oalah...putu-ku lanang....mmuah...mmuaah...”, bahasa sambutan yang sumringah tepat ketika aku datang berkunjung kerumahnya sembari mencium pipi kanan dan kiri-ku. Aku masih ingat jelas bahwa mbah kakung yang sakti mandraguna itu mempunyai pulau....mmh, mungkin lebih tepatnya wilayah kekuasaan secara de facto...aku menyebutnya dengan Pulau Surga buah-buahan...Iya...pulau itu banyak terdapat aneka warna buah-buahan....nangka, rambutan, pisang, mangga kecil yang manis, kueni, manggis...Dulu jika sedang bersilatuhrahmi ke Pulau itu memang seperti layaknya surga (surga yang ada di otak ini kala itu)....karena ya itu tadi banyak buah yang bisa aku makan...maklum masih kecil ya masih pecicilan...Sekarang masih ada nggk ya itu pulau...???

Speed boat yang bernama pancung itu masih mengapung dan melaju hilir mudik...??? Sampan kayu yang ada mesinnya di bemper belakang...??? penelusuran-ku mengatakan ya’ masih ada...kendaraan itulah yang aku tumpangi menuju Belakang Padang dan Pulau surga Buah-buahan. Uji nyali fear factor pun terjadi saat boat pancung ini berpapasan dengan kapal cepat singapur...walhasil akan terjadi semacam gelombang buatan yang membuat jantung ngalor-ngidul nggk keruan...Lumayanlah berpeluang dengan sangat untuk mendarat di air asin samudra itu.

Layaknya perjalanan waktu, hari semakin gelap dan pikiran-ku pun akan segera pulang kembali ke paraduan untuk kembali lagi berdiskusi, mematangkan rencana, membangun kerajaan masa depan. Terakhir dia meyampaikan kepada-ku.: ”Pin...engkau memang harus ke Belakang Padang...” dan aku jawab...” Itu pasti teman, tapi setelah aku melakukan sebuah perjalanan hidup yang imajiner....Doakan teman, kian hari semakin dekat saja...”. ” Baiklah jika itu harus kau lewati....”, balasnya sembari menutup diri di dalam diri ini. Awan tinggi itu masih terlihat kelam, hujan perlahan mengucur deras dan dingin semakin runcing. Diri ini masih saja berkabut kegelisahan, terlunta memandang tulang belulang tubuh ini, Hhhf...Imajiner dan Belakang Padang....sebegitu eksotisnya-kah engkau...??? Ya, aku akan Pulang...

Salam
Pipin Andriyanto

Monday, February 4, 2008

Masih Ok-Kok...

Kenyataan hidup telah memberikan jawaban kepada kita bahwa kehidupan yang kita lalui tidaklah berjalan dengan sendirinya. Ada semacam faktor ‘x’ di balik semua yang terjadi dan semua yang dialami oleh kita. Tiada satupun hal yang secara kebetulan terjadi…everything is already stock…Semuanya udah diatur…! Saya sebagai seorang yang sedang merangkak tertatih-tatih dalam belajar menjadi muslim yang baik pasti menganggap faktor ‘x’ tadi bersumber dari Zat Yang Maha Kuat, Zat Yang Maha Kekal, Zat yang hanya mengatakan ‘kun fayakun’..terjadilah maka terjadilah…!!! Tak lain dan tak bukan Sang Raja manusia penguasa Alam raya, Allah swt.

Teman...hidup itu selalu saja di selubungi oleh kabut misteri yang memendam beragam hikmah. Terkadang tidak masuk akal, imajiner, berfluktuatif yang kemudian membentuk runcingan stalagtit dan stalagmit. Bertengger di rumah daun yang kering kerontang, meruntuhkan kebuntuan yang selalu di-iringi irama permainan pimpong, tak tok tak tok tak tok...Wusssh, akhirnya jurus pamungkas maut itu keluar juga dan Yup point kemenangan sedikit lagi. Atau seperti urekan cacing kepanasan wilayah rambut dan kerutan jidat seorang warga yang sedang mengikuti perlombaan catur tujuh belasan. Permainannya memang seberat mengangkat kuda, benteng, dan raja beneran...susah sekali rasanya mengalahkan lawan yang tangguh itu. Yah, mukanya sudah nggk normal...stres berat karena ster dan kedua kudanya udeh tewas...

Konon tak banyak orang yang bisa mengungkap hikmah di setiap episode kehidupannya. Yah, kemauan perasaan dan pemikiran kita selalu saja paradoks terhadap kemauan faktor ’x’. Yang menurut kita baik belum tentu baik di sisi Allah, tapi klu menurut Allah itu yang paling baik sudah pasti itu baik buat kita...Ya itulah yang kita ambil walaupun kita terkadang hanya mereka-reka. Seorang bijak mengajarkan bahwa agar kita dapat memahami apa yang dimaui oleh faktor ’x’ ini maka kita harus menyertakan segala daya upaya kita dengan Tawakkal. Karena tawakkal ini akan mengantarkan siapapun yang melaksanakannya kepada keberhasilan hakiki.

Sejenak kita buka lembaran langit, buku suci komunikasi kita kepada sang Penguasa Alam. Berikut ini adalah beberapa keuntungan yang kita peroleh dari sikap tawakkal itu:
  • “Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”(QS.65:3)
  • “…barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”(QS.65:2)
  • “… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”(QS.3:159)
  • “…Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.”(QS.39:36)
Indah sekali bukan…? Ada suatu ketenangan batin yang sangat luar biasa…Saat kita berkelana di suatu tempat kemudian rehat sebentar di rumah Allah dan ketika itu lantunan ayat-ayat langit itu menghampiri telinga kita. Apa yang kita rasakan…? Sejuk, adem, dan tenang…Yah jiwa ini merasa tentrem. ’Tawakkal itu adalah keadaan berbuat tanpa henti (berusaha), dan keadaan tenang dengan tidak mengerjakan apa-apa (pasrah). Maksudnya adalah ‘melakukan perbuatan yang dapat menjadi sebab terjadinya sesuatu baik lahir maupun batin, serta pasrah terhadap hasil pekerjaan yang diperbuatnya, menerima apa adanya, hatinya tenang, dan senantiasa berusaha untuk mendapatkan ridha-Nya.’ Itulah definisi tawakkal yang aku baca.

Dan satu hal lagi yang sangat spektakuler...tentang tawakkal ini. Entahlah ini apakah hadistnya kuat atau lemah, mohon informasinya ya... Sebuah hadist mengatakan, “siapa saja yang ketika keluar dari rumahnya lalu mengucapkan Bismillahitawakkaltu ‘alallah laahaula walaa quwwatubillahil ‘aliyyun ‘adzhim (Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada kekuatan melainkan kekuatan dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung), maka akan dikatakan kepada orang tersebut,’Engkau telah diberi hidayah, dilindungi, dan diberikan kecukupan’. Lalu syetan berkata kepada syetan yang lain, ‘Apa yang akan engkau perbuat dengan orang yang telah diberikan hidayah, diberikan kecukupan dan dilindungi?”...itulah yang cukup sering aku ucapkan saat meninggalkan peraduan menuju ke-kancah pencarian rejeki.

Dan sekarang saatnya belajar apa itu tawakkal secara perlahan. Seingatku masih ada dua kotak kardus aqua harta berhargaku yang aku titipkan ke sebuah kosan teman-ku di Bogor. Namun aku hanya menemukan sekardus saja...dengan semangat generasi mandiri aku rapihkan dan aku boyong ke Jakarta dengan harapan aku akan mempunyai perpustakaan mini. Dalam perjalanan masih saja bertanya-tanya: 2 kardus lagi kemana..? 2 kardus lagi kemana..? 2 kardus lagi kemana..?. singkat cerita minggu depannya dengan niat tidak penuh aku berpindah diri ke Bogor dengan kerjaan kantor yang harus dirampungkan. Yah, hari Ahad...!!! Saatnya membersihkan kost-kostan. Segala macam kotak kardus terungkap dan di bawa keluar.

Otak kepanasan ngurusin data-data...dan terdengar-lah suara toa...’wooooi...buku sapa neh dalam kardus...???’ dan teriakan itu tertangkap oleh telinga hati-ku, perasaan senang bercampur was-was...karena boleh jadi itulah harta yang aku cari selama ini. Yah, 2 kardus yang berisikan buku dan beberapa majalah.... Ouw! Bentuk kardusnya sudah tidak meyakinkan...serasa sudah berpenghuni koloni pasukan pemakan kertas bercampur tanah yang menggumpal. Dan apa yang terjadi teman....??? silahkan Anda melihatnya pada tampilan berikut ini...:
Wahhh...ternyata sudah menjadi taman surga bagi para rayap pemakan kertas...Bukuku sebanyak 2 kardus telah wafat...mmh, cukup lama aku melihat dan mengaduk-ngaduk buku apa saja yang telah wafat...sesekali aku berteriak histeris kecil...saat melihat beberapa buku yang favorit. Yah...nasib nasib...aku berharap semoga para rayap-rayap itu menjadi penulis BesT Seller setelah melahap puluhan bukuku...Jelas-lah rasa penyesalan itu ada, menjadi pelajaran berharga bahwa: Jangan pernah menyimpan buku dalam kardus terlalu lama di tempat yang bernuansa lembab. Dan akhirnya aku rasa diri ini masih Ok walaupun kehilangan harta berharganya. Setidaknya ada semacam doa kecil di hati-ku: Ya Allah moga aku dapet uang buat membeli buku yang telah wafat or buku-buku yang baru lagi. Entahlah...apakah rasa kecewa karena wafatnya buku-bukuku itu harus di-iringi dengan rasa tawakkal atau rasa sabar atau ridho atau juga ikhlas...Tapi apapun keadaan yang menimpa kita rasa-rasanya masih Ok kok klu kita bertawakkal kepada Allah swt...

“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (Tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS.3:160)

Salam
Pipin Andriyanto

Monday, January 7, 2008

Sang BackpAcker...

Dalam perjalanan hidup-ku
Pada akhirnya hidup memang harus
Bermula dari mimpi atau imajinasi.
Itu akan menggumpal menjadi cita-cita.
Lihatlah Jules Verne
Dengan Mengeliling Dunia Dalam 80 Hari,
Cristopher Columbus lewat ekspedisi
Samudra Atlantiknya,
Karl May dengan legenda Old Shaterland,
George Orwell dalam 1984 dan Animal Farm,
Serta John Lennon mencurahkan isi hatinya
Dalam ”Imagine”.
Mereka semua adalah pemimpi.
Aku berani mengatakan
Bahwa mimpi adalah semacam rangsangan
Hebat untuk menuju kesuksesasn.
Atau juga, mimpi adalah kesuksesan
yang tertunda.
Percayalah dengan berusaha dan berdoa,
Tinggal menunggu waktu saja
Kesuksesan pasti akan kita raih...

(Gola gong)

Ungkapan yang tertulis dalam buku Menggenggam Dunia: Bukuku Hatiku...karya anak bangsa Gola Gong. Buku ini yang aku beli saat berkunjung ke Rumah Dunia. Mas Gola gong ternyata hanya punya satu tangan... namun Dasyat..! hal tidak menyurutkan perjuangan beliau dalam mencerdaskan bangsa ini...terlahirnya Rumah Dunia tidaklah segampang dan semudah melarutkan gula di dalam cangkir hangat teh melati...Semangatnya bergerak liar dalam menumbuhkan reading habbit sekitar hidupnya. ”Sangat keras dan butuh perjuangan...Sekali jatuh, aku bangkit lagi. Begitu terus, jika jatuh, bangkit, bangkit, dan bangkit!” itulah yang dialaminya saat membangun Rumah Dunia.

Lewat katalah aku hidup
Lewat kata pula ingin kutiupkan
Pada orang yang putus asa
Bahwa aku hidup di mana-mana.
Di setiap sudut kota Indonesia lewat novel-novelku
Aku ingin gairah hidupku merasuki
Setiap hati pembaca novel-novelku
Kata memberiku banyak makna.
Itulah yang ingin aku berikan kepada orang lain
Bahwa kata yang menjadikan hidupku bermakna
Kata bagiku adalah kekuatan
Yang memberiku terus bangkit saat terjatuh.
Kata seperti jantung hidup
Terus berdetak dan jangan biarkan tak bermakna...

Goresan yang cukup membangkitkan andrenalin bagi penulis pemula sepertiku...Meninggalkan harta warisan yang tak ternilai harganya teruntuk anak cucu. Seandainya para orang tua seperti mas Gola gong...niscaya bangsa ini akan maju...Dulu pas jaman aku TK sampe SMU nggk ada deh yang namanya membangkitkan potensi menulis...Seorang penulis yang baik tentunya adalah pembaca yang baik pula. Weih...dulu jangan pernah berharap saya untuk menulis.....sesuatu hal yang Susah...mmh, sekarang kudu dipaksa euy...biar anak-anakku serta para cucu-cucuku semuanya adalah penulis handal...tapi ternyata menulis yang bermakna, bergizi, menggerakkan, dan berdaya-guna sangatlah sangat susah...Suer...! udeh jempalitan, gudak-gidug...akhirnya mentoG!..hehehe...

Ada cerita yang menarik saat membaca buku menggenggam Dunia pada Bab 3...Bab ini mencerikan about ari-ari mas Gola Gong....tahu ari-ari kan....??? itu lho yang sewaktu kita lahir..yang deket puser tea...disebut juga plasenta, jalur makan janin tea (saluran yang menghubungkan janin dengan rahim ibu. Fungsinya untuk transfer nutrisi dari ibu ke janin, biasanya dipotong saat lahir)...mmh, anggep aja tahu dulu deh....So, pada saat Mas Gola gong ini lahir ternyata ari-arinya itu dibuang disungai Cikao, Purwakarta...kemudian saat mas Gola gong dewasa menanyakan perihal ari-arinya kenapa dibuang di sungai...hal ini beda dikarenakan adik dan kakak Mas Gola gong ditanam disekitar rumah. ”Supaya kamu melanglang Buana” itu kata emaknya...dan sang bapak pun berkata:”Sebagai lelaki, kamu harus banyak pengalaman”

And then...apa yang terjadi teman...??? huehehe…mas Gola gong menjadi anak yang berbeda ama adik dan kakaknya. Jika adik dan kakaknya adalah orang rumahan yang manis dan tidak neko-neko dikarenakan ari-arinya ditanam di sekitar rumah…Mas gola gong adalah anak yang liar…Petualang, menyukai tantangan…sudah beberapa kali masuk rumah sakit akibat tingkahnya yang “Move Up”…Nggk bisa diem…Berkelana ke tempat lain…seakan-akan sedang mencari ari-arinya yang entah berada dimana. Sampe-sampe 2 orang temannya sudah tidak sanggup mengikuti petualangannya saat menyusuri tanah jawa (Anyer-panarukan), Candi borobudur…Melihat makamnya bung karno…dll.

Iseng-iseng mas gola gong bertanya kepada ke dua temennya,”Ari-ari kalian saat lahir dikemanakan...?”...kemudian meraka menjawab:”di kubur di halaman rumah….”...Oalah, pantesan…begitu bales Mas Gola gong…Nah...stop sampe di situ aku membaca kisahnya…Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi Ibu di pekanbaru…untung banget ada simpati pede...hehehe...makasih udeh mempermudah komunikasi ma Ibu…Aku telpon ibu dan menanyakan perihal ari-ariku saat aku lahir…

“Bu…tanya ya…dulu pas Mas lahir ari-ari Mas ibu taruh dimana…?” begitu tanya-ku
Weih, kontan nyokap langsung bengong gajebo penuh tanya gitu deh…beliau jadi kepikiran klu aku tuh lagi pelajarin ilmu santet apa gitu…huehehe…Dan ibu pun menjawab bahwa ari-ariku itu ditanam dihalaman belakang rumah (waktu itu rumah masih disekitar Pulau Batam)…Mbah dan Bapak yang nanemnya…Hff…tadinya aku berharap ibu menjawab bahwa ari-ariku itu dibuang ke mana itu….ke sungai kek layaknya ari-arinya Mas Gola gong…Dan ibu pun bertanya lagi:”Kenapa emang Mas kok nanya begituan…?”…Yah aku bilang aja bahwa klu ari-arinya dibuang kemana gitu ntar anaknya jadi perantauan ngk bisa diem seperti mas Gola Gong tea….wah, ibu langsung jawab…”itu mitos…!”

Mmh, jadi belum kejawab neh pertanyaan-ku hingga sekarang…Hal apa yang mendorongkan seorang anak kelas 3 SD memberanikan diri untuk berpisah bersama orang tuanya….??? Hehehe…ari-ari itu hanya mitos pin…begitu kata ibuku...karena nyatanya aku bukan orang rumahan yang manis…Setelah aku banyak ngobrol ngalur-ngidul ma ibu...cupika cupiki…dan aku pun terkekeh-kekeh…Ah, Mas Gola gong bisa aja neh…Menurut Pak kuntowijaya melawan mitos adalah dengan ilmu pengetahuan, karya sastra, dan tentu saja dengan Agama.

Buku yang berisikan catatan jiwa petualang….jadi pengen seperti dia…hmm...Inspirasi yang tak pernah padam…


Sana, Lihatlah dunia...! Genggam ditanganmu...! Bertemulah kamu dengan orang banyak...! Pelajari karekter mereka. Belajarlah pada mereka. Jangan lupa, jadikan alam sehabatmu: pantai, sungai, gunung, fajar, senja, angin, hujan, laut. Dari sana kamu akan menemukan arti kehidupan sesungguhnya.
(Gola gong)


Salam
Pipin Andriyanto

*Backpacker adalah julukan bagi para traveller. Orang yang melakukan perjalanan dengan uang pas-pasan. Mereka memenuhi kota-kota dengan menyandang ransel, membaca guide book, tidur di losmen-losmen murah

Thursday, January 3, 2008

ke-Rumah Dunia...

Ada kesempatan dan mumpung sedang libur yang kemudian didukung oleh sedikit sisa hasil tetesan keringat...wuzz, berangkatlah para pelopor ‘pasukan ra genah’ menuju serang. Dengan niatan awal bersilatuhrahmi bertemu keluarga kang Deni Gumbira...

Kasak kusuk lagu lama…merupakan suatu hal yang nggk nyunnah jika para pasukan ra genah bepergian tanpa membawa benda kecil cahaya kilat, camejit alias Camera Dijital…terlebih dahulu berkumpul di kostan Chogan. Dan kita pun menuju Kota Serang. Sesampainya di Serang saat para kaum muslim melaksanakan solat maghrib. So pasti-lah, kita-kita bergegas menuju masjid Terminal Serang untuk solat maghrib. Kondisi malam itu cukup padat melihat pergerakan hilir mudik para pengendara. Gerombolan para kaum hawa berkerudung yang tertuju pada suatu tempat terkadang menarik perhatian kita. Ouw, ternyata...mmh, kayaknya ada pengajian di malam akhir tahun ini, semacam kontemplasi. Kita melewati alun-alun kota Serang…Ramai…!!! Para pendekar kuliner bertaburan dari tujuh penjuru mata angin mengisi tempat yang masih tersisa di alun-alun. Cuaca malam itu menurut-ku panas… nas…nas…Gemerincing suara perut memaksa kita untuk mampir di WarAKar...Warung Ayam Bakar bo...niat hati menemukan Bebek Goreng namun sejauh ini yang terlihat adalah WarAKar tea....

Dasyat juga sambel kacang di WarAKar tea…dan selanjutnya perjalan melintasi jalan kota serang dimulai kembali. Banyak taksi yang berbentuk angkot di kota ini. Sebenarnya sih angkot, namun angkotnya itu tidak terdapat identitas no seperti layaknya angkot-angkot dibogor. Jika di Bogor ada angkot 01, 01, 03, 04, 05,....blablabla....maka di Serang hanya warna aja...aku baru tahu angkot ini akan mengantarkan penumpang dengan sekehendak penumpangnya....kita berlima dan mendapati angkot yang kosong, langsung aja deh...kita bilang tujuan kita...Sumur Peucung!

Sampelah di rumahnya Kang Deni dengan kondisi badan udeh gelap bercampur lengket keringat. Biasalah cupika cupiki dulu ma keluarga kang Deni....setelah itu secara Formal aku mandi dan menggelar badan di kasur empuk....


Pagi tercipta kembali...dan nafas kehidupan berhamburan dari dalam rumah berserakan kembali seperti hari-hari biasanya. Yah...kita akan berkunjung ke rumah dunia yang punya Mas Gola Gong tea, Sang Seniman Kata. Pengen cepet sampe neh...















Akhirnya sampe juga ke tempat yang dituju...mengabadikan detik persinggahan...inilah Rumah Dunia, yang selama ini aku hanya bisa melihat sebatas layar komputer. Mondar mandir, ada ruangan bermain anak-anak, sekret, cafe, ruangan bacaan, Lumbung Banten, musholla..Tempatnya enak. Setiap hari selalu saja aktifitas di Rumah Dunia ini. Mau tau apa aja aktifitas yang terjadi...:

1. Hari Senin : Wisata Gambar
2. Hari Selasa : Wisata Bernyanyi
3. Hari Rabu : Wisata Mengarang
4. Hari Kamis : Wisata Lakon
5. Hari Jumat : Dongeng dan English on Friday
6. Hari Sabtu : Klub Diskusi Rumah Dunia
7. Hari Ahad : Crash Program dan Kelas Menulis


"Memindahkan dunia ke Rumah"...itulah tulisan yang agak gede tertera di brosur Rumah Dunia...
"Dari sinilah Insya Allah kelak akan tumbuh sebuah generasi baru yang mempunyai kapasitas tinggi dan hati nurani ketika bersinggungan dengan masyarakat luas. di sini pula learning center atau kawah candradimuka sebagai tempat penggodokan bagi peningkatan kualitas sumber daya anak-anak dan remaja, sebagai penerus di Banten Khususnya, dan Indonesia Umumnya...", weih visi dan misi yang secara perlahan dan pasti akan terwujudkan.

Finally...yang ditunggu-tunggu dateng juga....Mas Gola Gong. Layaknya para seniman yang sering tergambarkan di benak khalayak...Gondrong, Cuek, seadanya...namun ramah, iNspiratif, dan tegar...Entah kenapa pertanyaan yang sering menggantung tidak ku-tanya saat bertemu dengan mas Gola Gong...Hff, betapa bodohnya aku...berharap beberapa buku yang kita beli bisa menjawab para pertanyaan yang menggantung itu...
sekitar satu jam berada di rumah Dunia...tentunya ada beberapa serpihan ilmu yang kita dapat...kapan-kapan mungkin kita akan berkunjung kembali...Sekedar mencari Inspirasi...

Terimakasih atas kebersamaan selama ini...dan pasukan ra genah pun pulang....awan mendung menemani perjalanan pulang...Dan kehidupan pun terus berputar hingga titik penentuan...

Pengen kenal lebih jauh dengan Rumah Dunia dan banyak lagi about aktifitas Gola Gong silahkan aja berkunjung ke Situs Rumah Dunia dan Keluarga Pengarang...
moga bermanfaat...



Rumahku Rumah Dunia, kubangun dengan kata-kata

Salam
Pipin Andriyanto

Wednesday, January 2, 2008

Titip RinDu Buat Ayah...

Dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu

kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah

Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat, kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkus

Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkah kadang gemetar, kau tetep setia

Ayah...dalam hening sepi ku rindu
untuk...menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anak-mu sekarang banyak menanggung beban
(Ebiet gad)

Kita jarang berkomunikasi…namun aku tahu nun jauh disana dia selalu mengirimkan doa untuk-ku. Nasehatnya sederhana, tidak berat…akan tetapi kualitas dan gizi yang terkandung bisa membangkitkan semangat yang telah mati. Berdiri kuat dengan filosofi diantara dinding waktu yang semakin renta. Aku masih ingat tamparan dan sambaran gesper tua miliknya dalam mendidik-ku. Sosok kasar yang begitu aku takutkan dulu. Tak banyak tuntutan yang ia inginkan dari para anaknya. Mau kuliah dimana...Mengambil jurusan apa...mau kerja dimana...mau nikah dengan siapa..., Yah, tak banyak yang ia minta. Rasanya cukup mengantarkan para anaknya memakan bangku kuliahan dan selebihnya kitalah yang menentukan sendiri. Tentunya support yang diberikan sangat sangat berharga melebihi harta termahal di dunia ini.

Sepertinya tipe ekstrovertnya turun kepada-ku. Hmm, usia senja perlahan memadatkan di setiap sudut sendi tubuhnya. Rambut bercampur putih, kulit yang tak lagi gagah...dan tetap dengan asap kental rokok yang meliuk. Agak susah juga menghentikan aktifitas rokoknya di usia senja ini. Tertawanya khas...seisi rumah riang selalu jika mendengar saat ia tertawa...plong, menggelegar, dan biasanya diakhiri dengan terbatuk-batuk. Kita memang harus bersiap menghadapi segala kondisi yang akan terjadi. Hanya sesekali kita berkomunikasi. Jika bertemu, aku merasa segan dan kikuk tapi aku tetep mencairkan suasana.

Dan dengan bangganya ia mengenakan Jas biru teramat muda blur bercampur putih sedikit. Warna yang lembut menurutku. Berjalan memutar mata, melihat kondisi yang riuh...Yah, aku tahu pandangannya berteriak sepi..”Hey, anak-ku hari ini di wisuda...anak-ku adalah seorang sarjana...” sesekali terseyum terkekeh-kekeh melihat-ku...Terbawa suasana malam di sekitar para penjual kuliner kampus, aku senang begitu juga dengan ia. Berpindah dari suatu pulau ke pulau lain, berawal dari keadaan yang teramat sederhana dan akhirnya bisa punya rumah dan menyekolahkan para anaknya sampai ke perguruan tinggi. Benar apa adanya...: ”Tak ada yang tidak mungkin jika kita punya kemauan dan kesungguhan untuk meraihnya...”, sebuah harga mati yang ia anut. Setidaknya itulah yang tergambarkan dari perjuangan kisah ia ketika bertemu dengan tambatan hatinya...Ibu-ku.

Alur ceritanya sekarang adalah bertumpu di pundak ini. Ia tidak pernah meminta ganti apa yang ia telah korbankan untuk-ku. Hal yang sangat indah jika bisa membahagiakannya...memenuhi kebutuhannya dan memberangkatkan ia ke tanah suci. Hhf, aku memang belum bisa melunasi segala hutang kepadanya. Timbal balik jasa...yah, itulah yang seharusnya kita lakukan sekarang ketika sudah bekerja. Tentunya di hari tuanya nanti, ia sangat sangat membutuhkan perhatian yang hangat dari para anaknya...Berusahalah membuat ia tetap bangga terhadap kita...Ya Allah, titip rindu buat Ayah...

Dimatamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat dikeningmu

kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah

Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat, kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkus

Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkah kadang gemetar, kau tetep setia

Ayah...dalam hening sepi ku rindu
untuk...menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anak-mu sekarang banyak menanggung beban
(Ebiet gad)



Saturday, December 29, 2007

Mumpung masih ada waktu...

Sesungguhnya kondisi seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah
ketika sedang bersujud
(sabda Nabi Muhammad Saw)

Pagi ini berwarna agak kelam menyejukkan. Sedari subuh memang sudah terasa kalau keadaan diluar sana pasti akan semakin membuat orang susah untuk bangun. Serangan angin lunak perlahan menerobos lubang ventilasi kamar ini. Alhamdulillah, pagi ini aku lolos lagi dari lubang maut. Allah masih memberikan kesempatan lagi, yang entah kapan kesempatan ini akan berakhir. Hff, belaian angin luar, lembut dan menyejukkan sekali. Tak ingin untuk beranjak sedikit pun dari perebahan nyaman ini. Pagi ini memang jakarta terasa begitu indah bagi-ku. cuaca sejuk, perjalanan kekantor terbilang tidak macet. Tentunya ini adalah moment yang cukup langka bagi-ku. Seperti biasa jika dalam perjalanan kekantor aku selalu membawa sebuah buku dengan harapan aku tidak mati terlindas waktu dalam menulis.

Ternyata orang biasa bisa menghasilkan karya luar biasa. Entahlah terkadang bertumpuk ratusan karung pertanyaan dan mentok pada 3 kalimat: ‘ Kok bisa ya?’…Sama seperti halnya konsep statistik. Sebuah percobaan pada sekumpulan padi dengan diberi pupuk pada dosis yang sama, kelembaban juga sama, waktu pemberian juga sama….perlakuan yang diberikan semuanya sama…Namun kok ada perbedaan respon yang dihasilkan. Mulai dari perbedaan tingginya, lebar daunnya…de el el. Mereka juga sama dengan kita. Mereka tidur, makan, bekerja, waktunya juga sama sehari 24 jam…Namun, selalu saja ada perbedaan. There’s no life whitout Variance. Indifferent…? Terkadang iya. Kembali lagi ke satu titik…Bingung! Confusion on confusion!

Beberapa angkot yang ku-naiki cukup sepi di hari ini. Kulihat salju-salju tipis kecil nan bening bercurahan dengan pasti. Tahun 2007 akan berakhir namun tidak demikian halnya Musibah…!, Banjir dan tanah longsor di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur setidaknya mewarnai hari di penghujung tahun 2007 ini. Yah, aku masih selemah-lemahnya iman…dan aku pun hanya bisa berdoa untuk para saudara-ku yang sedang terkena musibah. Sangat kontras sekali jika mengetahui perayaan malam tahun baru nanti. Kontras! Musibah dan perayaan. Konon katanya di sekitar monas akan ada sebanyak 10 ribu kembang api. Pasti sangat riuh sekali suasananya. Jeritan terompet yang memekakkan telinga vs jeritan tangisan yang berusaha mendobrak ruang hati.

Bila masih mungkin kita menorehkan bakti
Atas nama jiwa dan hati tulus ikhlas
Mumpung masih ada kesempatan buat kita
Mengukurkan benang perjalanan abadi

Kita pasti ingat tragedi yang memilukan
Kenapa harus mereka yang terpilih menghadap
Tentu ada hikmah yang harus kita petik
Atas nama jiwa mari heningkan cipta

Kita mesti bersyukur bahwa kita masih diberi waktu
Entah sampai kapan tak ada yang bakal dapat menghitung
Hanya atas kasih-Nya hanya atas kehendak-Nya
Kita masih bertemu matahari
Kepada rumpun dilalang kepada bintang gemintang
Kita dapat mencoba meminjam catatannya
Sampai kapan-kah gerangan
Waktu yang masih tersisa

semuanya menggeleng
semuanya terdiam
semuanya menjawab tak mengerti
yang terbaik hanyalah segeralah bersujud
mumpung kita masih diberi waktu
(Ebiet gad)

Puisi lagu yang selalu mengingatkan jiwa ini. Setiap kejadian selalu saja ada hikmah, namun lagi-lagi kita tidak pandai untuk memetik hikmah apa yang terkandung...Sebuah pesan yang ingin Sang Raja manusia sampaikan...tapi apa....??? tapi coba kita sejenak menyimak penuturan Pak Amr Khalid dalam bukunya yang berjudul ’Titian ke surga’:

”Wahai saudaraku, masalah-masalah ini sengaja di timpakan kepada Anda dengan tujuan agar Anda meminta kepada Allah Swt. Dan cita-cita Anda memang ditunda pencapaiannya dengan tujuan agar Anda mau mengangkat kedua tangan untuk memohon kepada Allah Swt. Ampunan dari Allah Swt juga sengaja disembunyikan, apakah Dia akan mengampuni Anda ataukah tidak? Hal ini bertujuan agar kedua tangan Anda tetap berhubungan dengan langit.
Cukuplah bagi Anda untuk mengangkat kedua tangan Anda untuk memohon kepada Tuhan Pemilik ’Arsy, dan cukuplah bagi Anda untuk memejamkan kedua mata dan menggerakkan bibir Anda. Maka pada saat itulah Anda akan merasakan kebahagian...”

So, kawan apa yang bisa dapat kita simpulkan...? Segala musibah dan masalah yang menimpa kita ternyata sebagai pengingat agar hubungan kita tidak terputus dengan langit. Mungkin bangsa ini kurang banyak menengadahkan tangan ke langit untuk meminta kepada Allah...? Mungkin bangsa ini kurang banyak bersujud...? Mungkin bangsa ini telah banyak melupakan Allah...? Dan mungkin Allah tidak ingin dilupakan oleh para hambanya sehingga Allah menurunkan musibah, cobaan, dan berbagai masalah...? misteri itu sedikt demi sedikt pasti akan terbuka...

Entahlah seperti apa nantinya negeri ini ditahun 2008 nanti. Belum lagi nanti memasuki 2009 yang konon katanya ada hajatan besar-besaran bangsa ini...Pemilihan Presiden...!!!
Sedangkan kita....??? apa yang akan terjadi pada diri kita di tahun 2008 ini dan apa yang akan kita lakukan....???

Aku rasa sikap yang terbaik saat ini ialah seperti puisi lagu di atas...Yang terbaik hanyalah segera bersujud, mumpung masih diberi waktu. Tetap terus berhubungan dengan langit, menengadahkan tangan meminta kepada Allah...Semoga para saudara-ku yang sedang di coba dengan berbagai musibah selalu Allah beri hidayah, kekuatan, dan kesabaran...

Hhhf, ting...pintu lift pun tersenyum dan aku telah sampai dilantai 3 kantor-ku, bekerja kembali...merangkai potongan-potongan puzzle cita-cita...

Bismillah...!!!

Wallahu ’alam bishowab